Nikmatnya Riding Akhir Tahun Bersama Keluarga DNC ( Dewata NSR Club )

Pagi ini pukul setengah 6 pagi dan hujan masih mesra membasahi bumi ini. Aku telah terbangun dari tidurku, segera kubasuh muka sembari menanti tarian hujan yang nampaknya mulai mereda. Sengaja pagi ini tidak mandi pagi, karna cuaca yang seperti ini membuatku takut masuk angin saat touring nanti. Hapeku berkali-kali berdenting dan kulihat kawan-kawan satu klub sudah mulai saling berkabar tentang keadaan pagi ini. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah 7. Waaahh!!!! Bakal molor nie dari rencana keberangkatan jam 7 pagi. Tak berapa lama satu demi satu berdatangan di titik kumpul. Aku sengaja tidak ikut bergabung karna jalur yang akan dilewati melewati jalan di dekat kost ku. Selain itu setelan bahan bakar dan oli sampingnya masih disetel boros agar seher ndak nyangkut. Maklum setahun ndak nyala, karna itu sengaja dibikin boros demi menjaga keamanan blok mesin.

Hampir pukul 8 pagi akhirnya aku bertemu dengan kawan-kawanku, perjalanan pun berlanjut menuju ke Jatiluwih rice terrace village. Karna ini hari minggu, jalanan cukup padat dengan lalu lalang kendaraan yang sedang menuju ke tempat wisata. Kami berjalan beriringan dengan santai melewati desa mambal lalu berlanjut lewat desa kapal dan masuk ke desa Blahkiuh. Tanpa terasa sudah hampir sampai ke Jatiluwih.

Ada moment unik saat melewati jalan yang kebetulan terputus karna sedang diperbaiki. Disediakan jalan alternatif dekat situ dengan tanjakan yang cukup extrem kawan. Saat aku melewati tanjakan tersebut tepat di depanku ada seorang kakek berpakaian ada Bali. Kupencet tombol
Klakson dan sialnya klaksonnya nggak ada hahahahaha…. 😂😅 jadilah aku berteriak TIIIN!!!!…. TIIIINN!!!!…. TIIINN!!!….. Berharap Kakek ini memberikan jalan padaku. Namun apa daya malah kakek ini kebingungan dan jadilah motorku mati saat kurang setengah meter dari pucuk tanjakan yang curam. Tentunya motor segera meluncur turun, walaupun rem depan dan belakang telah kutarik. Untungnya dengan sigap para pekerja proyek didepanku langsung menahan motorku agar tak malin turun kebawah. Didorongnya hingga akhirnya sukses sampai keatas.

Tau tidak??… Kakek tadi dengan tenangnya berkata dalam bahasa lokal sini yang jika diterjemahkan: hati-hati Dek kalo naik motor….. Aseemm!!!! Ini Kakek hampir bikin aku celaka malah dinasehatin lagi aku sekarang, kataku dalam hati. Kemudian kakek itu bertanya kembali yang tentunya dalam bahasa lokal sini.
Kakek: adik mau kemana??
Saya: ini pak mau ke Jatiluwih sama teman-teman satu klub
Kakek: kalo gitu saya ikut sampe pertigaan jalan besar ya
Saya: masih mbatin….. Buzzzeettt dach!!!! Ngerjain kakek satu ini. Iya dech Kek… Ayo naik!! Saya antarkan
Akhirnya Kakek ini pun naik diatas motorku. Dengan perasaan agak dongkol sebenarnya, aku kebut laju motorku agar segera sampai tujuan. Apalagi jalan desa tak mungkin rame lalu lalang. Sekencang mungkin kupacu motorku, bukannya takut malah kakek ini bersorak kegirangan dibelakangku. Katanya kencang sekali motormu nak. Aku pun membalas ucapan kakek ini, gimana Kek??? Mau aku pacu lebih cepat dan kakek yang kubonceng dengan senang berkata iya Nak kencengin lagi aja laju motornya. Batinku dalam hati…. Gila!!! Ini kakek-kakek malah seneng diajak ngebut naik motor Honda NSR bututku.

Akhirnya…. Aku pun sampai dipertigaan dimana kakek ini harus turun, makasih Nak… Sudah dianterin, kata kakek padaku dan kubalas kembali kasih Kek…. Hati-hati kalo jalan ya Kek. Teman-teman yang kusalip yadi akhirnya bertemu denganku yang telah menunggu mereka. Perjalanan kami pun berlanjut hingga sanpailah kami di Jatiluwih Rice Terrace Village. Sampai kelewatan saat memasuki loket untuk bayar tiket masuk. Sesampainya disana kami mengabadikan moment yang ada dengan kamera ponsel masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi. Saat memarkir sepeda motor ada rombongan Bapak-bapak Jaman Now yang sedang asiek gowes dengan sepeda mereka. Tentunya harga sepeda gayung yang digunakan bisa 3 kali lipat dari si Karebet NSR ku. Beberapa dari bapak-bapak itu mengetahui tentang Honda NSR. Terutama NSR 150 SP milik om Sultan Wisnu yang paling dilirik.

Sarapan pagi diselingi obrolan ringan yang mengalir berdentang mengikuti waktu yang terus berdenting dan canda tawa diantara kami, aku pamit bentar ke bilik tandas. Biasalah…. Setoran karna dari berangkat belom setoran. Setelah sesi makan pagi dan obrolan ringan, akhirnya diputuskan untuk lanjut menuju ke bedugul sekalian karna tak jauh lokasinya dari Jatiluwih. Libur kerja yang aku tukar, dimana harusnya hari senin aku libur cukup mengurangi penat dipikiranku.

Karna hari ini adalah hari minggu, jalanan menuju Bedugul dipenuhi oleh kendaraan yang juga menuju kearah yang sama plus sekumpulan Bus beriringan selama menuju kesana. Karebet alias NSR ijoku bekerja keras agar bisa melewati tanjakan kearah Bedugul. Bukan tanjakannya yang menyusahkan, akan tetapi rombongan Bus dan juga kendaraan pribadi yang berjalan beriringan membuat karebet ngos-ngosan saat harus melewati tanjakan. Dalam turing DNC kali ini ada juga 2 orang kawannya Om Jimmie salah satu rekan kami di klub yang juga ikutan turing. Ada Kang Hadie yang membawa Yamaha R15 V3 (seri ketiga yang beredar sekarang) dan om Alex yang mengendarai Suzuki GSX 150R. Bagi yang mengendarai 4 tak 150cc dengan setingan standar pabrikan tentu enteng saja mengikuti kami, berbeda dengan kami yang harus berusaha keras mengatur bukaan gas agar tidak kehilangan torsi ditanjakan. Banyak hal yang membuat demikian, mulai dari setingan motor sampe dengan pengapian masing-masing NSR. Contohnya Karebet NSR hijau yang kupakai, pengapiannya tidak standar. Menggunakan pengapian motor bebek keluaran Yamaha dan kiproknya pun juga tidak original

Jika NSR tersebut semuanya masih sehat dan normal layaknya NSR 150 R milik om Eko ya enteng aja melibas tanjakan dengan santai. Dalam rombongan ini ketambahan seorang Rider NSR baru yang kebetulan menyusul kami dan berpapasan saat kami baru mulai melanjutkan perjalanan dari Jatiluwih menuju
Ke Bedugul. Alhamdulillah…. Nambah lagi yang ikutan Turing. Sebenarnya bukan kesamaan motor yang dicari tapi kebersamaan yang tercipta diantara kami. Walau ada peserta baru, tapi kita semua seperti layaknya kawan yang lama tak jumpa.

Sesampainya di Danau Beratan, mengistirahatkan badan sejenak sembari kembali mengabadikan moment. Saat kulihat motorku, ada sedikit masalah. Ada rembesan oli yang entah dari mana??? Padahal tabung / wadah oli samping aman, tak ada kebocoran. Selain itu seal shock depan sebelah kiri juga bocor jadi olinya juga ikut keluar hingga agak sedikit terasa timpang saat di rem
Depan. Cek kondisi oli samping ternyata minim banget, aku berencana mencari bengkel terdekat untuk membeli oli samping. Karna oli samping yang kubawa tadi telah dibeli oleh Om Danar. Tau gitu ndak aku tuang semua tadi oli sampingnya. Kata om Danar padaku. Gpp om…. Ntar cari bengkel aja beli oli samping yang ada dulu aja.
Om Danar: aku ada oli di tas tuch
Saya: lhaa… Kalo ada, tadi ngapain beli oliku om???…
Om Danar: Ada Gasoli kalo mau
Saya: berapa duit om…. Sambil
Mbatin, semoga ndak mahal
Om Danar: 70rb aja….
Saya: alamak kurang uangku om
Om Danar: hehehehe…. 😀 udah 50rb aja sini
Saya: yaach…. Duit tadi balik lagi ke om, sambil cengengesan. Ntar aku
Ambil uangnya dulu om. Setelah ku kumpulkan uang yang ada di kantong. Ternyata kurang lagi 10 ribu. Waaahh!!! Kurang 10rb om gimana??
Om Danar: ya udah sini dulu sisanya nyusul.
Saya: suwun yo om ntar kurangnya ta ganti.
Saat akan berangkat pulang menuju Denpasar, dibantu om Danar menuang oli samping ke tabung pengisian. Perjalanan pun berlanjut. Biasalah!!! Kalo udah begini pasti ada aja yang adu kebut di depan meninggalkan teman-teman yang lain. Benar saja, akhirnya rombongan kocar-kacir. Kang Hadie kawannya om jimmie yang menunggangi R15 malah sudah jauh didepan menunggu. Hingga akhirnya om Pak Ketua Nanda menelpon dan memberitahukan agar putar balik karna motornya om Sultan Wisnu trouble. Jadilah saya kang Hadie dan Bli Ngurah putar balik menyusul Nanda.

Sesampainya di lokasi, bukan motornya kawan. Tapi orangnya yang trouble gegara liat penjaja buah durian pinggir jalan sedang menggelar dagangan. Jadilah kami beristirahat kembali sambil menikmati buah durian dan ngobrol ngalor-ngidul. Tanpa terasa waktu sudah menjelang sore. Kami pun pulang melewati rute learah sangeh. Sengaja lewat sana agar lebih cepat sampai ke Denpasar dan tentu menghindari kemacetan. Tapi apesnya saat sampai di mambal, kemacetan cukup membuat aku ketar ketir. Takut mesin overheat aja gegara jalan yang dilintasi padat merayap. Melewati Tonja lalu menuju jalan Nangka dan kuteruskan hingga sampai ke jalan jayagiri renon. Tujuanku kesana adalah untuk mengecek teouble pada motor.

Coolant di reservoir sampe kering tapi radiator normal saat dinyalakan. Usut punya usut selang radiator yang menuju ke head blok rembes dan yang belum ketemu penyakitnya adalah selang hawa di mesin bawah kenapa bisa ada oli keluar dari situ. Bahkan perkiraanku seperti oli samping yang keluar. Jika diurut jalurnya juga tak mungkin karna oli samping jalurnya masuk ke pompa oli dan dari pompa oli dialirkan menuju ke karburator. Biarlah mekaniknya yang lebih paham.

Inilah ceritaku hari ini bersama dengan rekan-rekan DNC dan rekan lainnya yang turut serta dalam touring kali ini. Terima kasih kawan telah membaca kisahku hari ini. Semoga bermanfaat.

Jangan Lupa Bahagia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*