Bintang Terang Itu Bernama Binter GTO 110 Dan GTO 125

Bulir-bulir hujan yang jatuh ke bumi nampaknya enggan beralih membasahi tanah dimana aku berpijak. Padahal, hari ini aku berjanji untuk mengembalikan sepeda motor pinjaman milik mbah Gugel. Sebenarnya tak masalah jika aku meminjam lebih lama, akan tetapi sehari saja bagiku telah cukup waktu untuk menikmati motor pinjaman ini. Akhirnya…. Dengan terpaksa kukembalikan saja, daripada ndak enak hati. Takutnya pemilik nungguin motornya balik, toh nanti aku cuci saja di rumah mbah Gugel sekalian. Mumpung garasi mbah Gugel, bagian terasnya ada atap. Jadi amanlah….. Buat nyuci motor.
Segera kukenakan mantel hujan yang merupakan perlindungan bagi tubuhku agar tak basah terkena hujan. Kunyalakan motor sejenak sembai bersiap-siap mengecek segala perlengkapan. Setelah segalanya siap, segeraku meluncur ke rumah mbah Gugel yang lokasinya tak jauh dari rumah. Sesampainya disana, Pak Sunardi kepala security di rumah menyambutku dengan hangat.
“Udan le!!…. Ngopo koe udan-udanan balekno pedah??? Ngko wae nek wes reda dibalekno” kata Pak Sunardi saat tau aku ingin mengembalikan motor.

“Yo…. Ra penak Pak, wedine dienteni sing nduwe motor” jawabku pada Pak Sunardi.

“Yo Wes ndang mlebu…. Ojo udan-udanan Le, ngko masuk angin” kata Pak Sunardi padaku.

“Siap Pak…. Ta tinggal sik yo Pak” balasku.

Teett!!!…. Trreeett!!!!…..teeett!!!…. BELL kupencet dan seperti biasa Bi Asih menyambutku dsngan senyumnya yang menggoda. Asal kalian Tau, Bi Asih ini bukan ibu-ibu estewe…. Usianya masih di kepala 30, lajang dan tentunya rupa cantik khas tanah Pasundan dengan bodi yang aduhai nan semampai serta asetnya itu lhooo…. Bisa bikin biji jakun naik turun ngeliatnya, skor untuk Bi Asih ini 8++ laahh….. Cocoknya Bi Asih ini jadi sekretaris pribadinya mbah Gugel bagiku.

“Eehhh!!!…. Aden, mangga ka leubeut”
“Nuhun, Bi Asih….”
“Bibi bikinkan minuman yang anget ya Den”

setelah itu kulepas mantel pelindung hujan di teras dan tak berapa lama kang Larry menemuiku yang sedang asiek duduk di teras menikmati derasnya rintik-rintik hujan. “Lhaaaa…. Ujan gini ngapaen dibalikin motornya??? Ntar aja nunggu reda…. Daripada ujan-ujanan ntar sakit” Jawab Kang Larry Padaku.
“Gpp Kang, saya ndak enak hati kalo kelamaan minjem motornya” Balasku.

“hallaaahhh!!!….. Kayak sama siapa aja kamu ini?!?!….” Balas Kang Larry.

“Eehhh!!!!…. Mending masuk nongkrong di garasi aja, daripada di depan gini. Lagian Si Sergey lagi sibuk di belakang”. Kata Kang larry kembali padaku.

“Boleh kang, tapi ada nya mantel hujan sebiji doang ndak ada payung buat ke Garasi Samping” Jawabku.

“udah…. Lewat dalem aja, daripada ribet”. Jawab Kang Larry.

Aku pun mengikuti langkah Kang Larry menyusuri isi dalam rumah yang megah ini dan tak berapa lama, sampailah aku di Garasi tempat kami biasa nongkrong. Treeeng!!!!…..Trrreeeng!!!!….. Teeeng!!!….Teeeng!!!…..Teeeng!!!…. terdengar suara knalpot motor 2 Tak yang sangat khas dengan sedikit ngebas, sehingga dulu lumayan banyak dipakai kampanye partai politik. Sayangnya kini populasinya dijalan sudah sangat jarang ditemui. Benar saja, setelah kudekati ternyata sebuah sepeda motor Kawasaki Binter GTO 125 cc 2 Langkah sedang dipanasi oleh kang Sergey.

“mantap benar ini Kang, Mesinnya masih halus plus suara mesinnya juga masih enak bin renyah” ucapku pada kang Sergey sembari menyalaminya”.

“Yaa…. Namanya motor tua, kudu lebih perhatiannya biar ndak gampang rewel bro” jawab kang Sergey”.

” Pasarannya berapaan sekarang untuk motor ini Kang???….” Tanyaku pada kang Sergey.

“harga pasaran sepeda motor Kawasaki binter GTO 125 untuk sekarang ini Gelap asal suka bayar, untuk Kawasaki Binter GTO 110 saja dipatok diharga 3 jutaan hingga diatas 10 juta tergantung kelengkapan surat menyurat, kondisi mesin dan keorisinalitas barang”. Jawab Kang Sergey.

“brarti Kawasaki Binter GTO 125 bisa diatas itu harganya ya Kang Sergey???…” Tanyaku kembali.

“Yaa…. paling ndak sedikit lebih tinggilah harganya dibandingkan yang 110 cc 2 Stroke“. Jawab Kang Sergey kembali.

Jadi kurang lebih begini sejarahnya Bro, Kawasaki Binter GTO 125 ini Terlahir bersamaan dengan GTO 110 dan Binter Merzy. Karna terlahir di tahun 1980 maka mini fitur sperti sepeda motor pada jaman sekarang. Untuk menyalakannya aja butuh diengkol dulu pake kaki, kemudian pada panel instrumennya setidaknya sudah tersedia tachometer untuk menunjukkan putaran mesin. Sistem karburatornya menganut model rotary disk valve. Berhubung Binter dulu hanya menjual secara rebadge, logo dan emblem Kawasaki masih terlihat diberbagai detail motor ini.

Konsol meternya walau terlihat sederhana namun sudah cukup lengkap dimasanya. Bentuknya bulat dengan penutup model mengotak. Kelengkapannya ada speedometer 160Km/jam yang lengkap dengan odometer, lampu indikator sein kanan dan kiri, indikator netral serta high beam sudah tersedia lengkap dengan hiasan aksen merah dan jarum putih dengan latar belakang hitam. Dibagian sisi kanan ada tachometer yang menunjukkan angka hingga 11.000Rpm dengan redline 8000Rpm saja. Kunci masih model standar dan ukurannya kecil dengan rumah kunci yang berada ditengah panel meter.

Di negara asalnya yaitu Jepang, motor ini diberi nama Kawasaki KH dengan pilihan mesin mulai dari 90cc, 125cc, 250cc, 400cc sampai 500cc. Untuk yang bermesin dibawah 250cc menggunakan mesin 2 tak 1 silinder. sedangkan untuk versi 250cc keatas memakai mesin 3 silinder yang juga 2 tak dengan knalpot 3 buah. Versi 400 dan 500cc nya dikenal juga sebagai Kawasaki 400SS Mach II dan Kawasaki 500SS Mach III. Untuk pasar selain Jepang diberi nama GTO dan nama Kawasaki / Binter KH sendiri di Indonesia menjadi motor kelas entry level Binter dengan mesin 100cc.

Pada masanya, GTO 110 populer karena berkapasitas mesin lebih besar dari Honda CB100. Lewat sepeda motor itu pula Kawasaki untuk kali pertama menciptakan mesin 2-tak berkapasitas 110 cc. Mendapat respon positif dari masyarakat, Binter kemudian menghadirkan varian dengan kapasitas mesin yang lebih besar, yakni GTO 125. Kabarnya mesin yang digunakan masih menggunakan basis Binter KE 125 dengan transmisi manual 5 percepatan.

Sebenarnya Kawasaki Binter GTO 125 ini masih diproduksi oleh Kawasaki sampai tahun 1998 (KH125). Namun karena tahun 1985 Binter atau Bintang Terang sebagai agen tunggal pemegang merk Kawasaki di Indonesia mengalami kebangkrutan, maka produksi motor ini juga ikut dihentikan. Selanjutnya pada tahun 1996 ketika Kawasaki kembali lagi ke Indonesia dengan bendera Kawasaki Motor Indonesia, motor ini tetap tidak ada penerusnya. EEEhhh!!!!…. Sampe lupa….. Ini spesifikasi lengkapnya Bro, sambil menunjukkan spesifikasi Kawasaki Binter GTO 125 ini padaku :

Make Model

Kawasaki GTO 125

Year

1980 – 1985

Engine

Two stroke, single cylinder, Rotary Disc valve

Capacity

124 cc / 7.6 cu-in
Bore x Stroke 56 x 50.6 mm
Cooling System Air cooled
Compression Ratio 7.0:1

Induction

carburetor

Ignition  /  Starting

KICK STARTER

Max Power

13 hp / 9.6 kW @ 7500 rpm

Max Torque

1.5 kgf-m / 10.8 lb-ft @ 6000 rpm

Transmission  /  Drive

5 Speed 
Final Drive Chain

Front Suspension

Telescopic

Rear Suspension

Swinging arm

Front Brakes

Single disc

Rear Brakes

Drum

Front Tyre

2.75-18

Rear Tyre

3.00 -18

Dry Weight

95 kg

Fuel Capacity 

11.6 Litres

Consumption  average

27 km/lit

Top Speed

124 km/h

Dengan berbekal mesin 124 cc 2 Tak berpendingin udara dengan sebuah pengabutan bahan bakar dan daya tampung bahan bakarnya sebanyak 11 liter mampu memuntahkan daya kuda sebesar 13 hp / 9.6 kW @ 7500 rpm dan torsi sebesar 1.5 kgf-m / 10.8 lb-ft @ 6000 rpm. Sebagai penyalur tenaga ke rantai, mesin Binter GTO 125 ini sudah dilengkapi transmisi 5 percepatan yang mampu berlari hingga diatas 120 km/jam, untungnya di bagian depan sudah disematkan perangkat disc brake untuk menghentikan laju ban depan.

Karna kawasaki Binter GTO 125 atau yang di negara asalnya sana disebut Kawasaki KH 125 ini berbagi mesin dengan seri Kawasaki KE 125 jadi ya secara spesifikasi ndak akan berubah banyak. Ya…. Sayangnya gegara pemiliknya Buron tuch sampe sekarang akhirnya Bangkrutlah ATPM Bintang terang alias Binter yang tak bertanggung jawab atas kelangsungan aftersalesnya terutama sparepart.

Disaat asyik mengobrol Bi Asih seperti biasa datang membawakan minuman dan cemilan untuk kami. “Ini Juragan Long Black coffe dan Macchiato pesanannya, buat Den Santoso wedang alang-alang biar ndak masuk angin” kata Bi Asih yang memecah keasyikan kami mengobrol. Oohhh!!!…. Taruh saja disana Bi….(sambil menunjuk kearah meja kosong disebelah kanan) Makasih ya Bi…..” Jawab Kang Sergey. “Punten….. Bibi pamit balik ke Dapur Lagi” Jawab Bi Asih kembali pada kami. “Nuhun untuk wedangnya Bi” Jawabku.

Anehnya untuk produk Seri Binter GTO 125 ini di negara asalnya pun juga ada dengan tambahan penutup lampu depang serta bagian undertail yang sedikit berbeda. Selain di jepang di Thailand Seri GTO 125 juga hadir disana. Sayangnya Indonesia yang bisa dikatakan sebagai salah satu gudangnya motor-motor langka terutama 2 Tak. Cuman kebagian seri KH 125 alias GTO 125 seri pertama. Padahal pasar untuk motor 2 Langkah saat ini makin bergeliat seiring dengan trend yang kembali pada masa-masa jaman dulu. Ditambah lagi Orang-orang di Indonesia sudah banyak yang melek Internet, tinggal ketik keyword di mesin pencarian bisa mendapatkan apa yang dicari dan tak jarang jika barang yang diinginkan tak di dapatkan. Bahkan sampe berburu ke negara asal produk tersebut. Terima kasih.

Jangan Lupa Bahagia.

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*