Yamaha RS 100 Salah Satu Idola kawula Muda Dekade 70an

Sore selepas Ashar ini aku berniat untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara perkotaan sore hari dan menikmati lalu lalang kendaraaan di jalan. Beruntung hari ini langit hanya sekedar mendung, setelah beberapa hari diselimuti awan pekat diiringi derasnya hujan dan gemuruh angin kencang. Setelah segala sesuatunya selesai kupersiapkan, segera kupanasi mesin motor 2 Tak buluk yang akhir-akhir ini jarang kugunakan. Kunci kontak telah berada dalam posisi ON, segera saja kutendang pedal Kickstarter dan mesin motor pun menyala diiringi kebulan asap 2 Stroke layaknya mesin Foging pembasmi demam berdarah. Nasib….. Nasib….. motor 2 Langkah kalo kelamaan ndak dinyalain ya begini pastinya, asap mengepul.

Kukeluarkan motor sambil tolah-toleh kali aja ada Mimin, itu bocah tumben jarang nongol. Kayaknya lagi sibuk dengan si Hayati, segera kukeluarkan motor dari garasi dan tak lupa kunci gerbang dulu. Gas tipis-tipis menyusuri ibukota, bagai pengobat jiwa yang lelah akan rutinitas harian. Nampak di depanku ada seorang lelaki kira-kira seumuranku sedang menuntun motornya, segera kusamperin dan berkata : “Mogok kenapa Bro???……” Tanyaku. “kayaknya platinanya abis ini Bro??….. ” Jawab si pemuda yang menuntun motor tersebut.

“ya udah…. sini aku stepin sambil nyari bengkel dket sini” Balasku.

“ndak usah bro….. Malah ngerepotin” jawab pemuda tersebut.

“udah gpp…. cepetan naik, biar bisa aku step” Balasku kembali.

“Ya deh kalo kamu memaksa” Jawab si pemuda kembali.

Yamaha RS 100 Super/sport

Berjalan di lajur kiri sambil melihat sekeliling, kali aja nemu bengkel yang bisa ngatasin permasalahan mas bro satu ini. Ternyata ada bengkel di jalan yang kami susuri, sayangnya bengkel tersebut tak punya stok Platina ditambah lagi ternyata businya juga sudah mendekati koit. Untungnya Pemilik bengkel memberitahu ke kami kalo ada bengkel dekat situ yang ready stok barang yang kami cari. Beruntung setelah berjalan beberapa saat, kami menemukan bengkel tersebut. Sembari menunggu motor kelar diperbaiki, aku pun bertanya:

“eehh…. Kita belom kenalan nie bro, saya Santoso” Kataku sambil mengulurkan tangan tanda berkenalan.

“Salam kenal Bro, saya Ibrohim…. Panggil aja Boim” sambil menjabat tanganku.

Yamaha Seri apa ini Boim??….” Tanyaku.

Yamaha RS 100 tahun 1979 San….” jawab Boim.

“ceritain dong sejarahnya ini motor??….” Tanyaku kembali.

“Kalo motor ini pemilik awalnya Opang alias ojek pangkalan dekat rumah, karna sudah berganti matic jadi lama diem di gudang” Balasnya.

“Berarti restorasi dulu nie, pas pertama dapet??…” kubertanya kembali.

“Yaaa…. Begitulah San, Karna motor Tua kan yang dicari tantangannya untuk mengembalikan layaknya baru keluar dari dealer” Jawab boim.

Lalu Boim pun melanjutkan ceritanya, sebenarnya pada tahun 1970an Yamaha Indonesia kembali meluncurkan motor sport ber kapasitas 100cc, yaitu Yamaha RS 100.  Tapi  walaupun 100cc tapi motor ini lumayan bertenaga dan lincah dikendarai, hanya modelnya saja sepertinya kembali ke model lawas, seperti era Yamaha L2. Walaupun sudah 40 tahun motor ini masih enak tarikannya setelah aku restorasi. Hebatnya di tahun 1970an Yamaha sudah menerapkan sistem reed valve dengan sebuah karburator Mikuni VM20SH untuk mengabutkan bahan bakar. Oli samping tak perlu mencampurkan ke tangki karna sudah menggunakan sistem Autolube, sehingga tak perlu repot menuang oli samping setelah isi bahan bakar. tapi ya…. kudu inget cek oli samping jangan sampe habis, ntar bisa nyangkut itu seher.

Yamaha RS 100 Super

Mesin dari Yamaha RS 100 ini hanya berkapasitas 97 cc 2 tak berpendingin udara dengan ukuran Bore X Stroke 52 x 45.6 mm dan kompresi 7.0 : 1 mampu memuntahkan daya kuda sebesar 11 hp /  8.1 kW @ 8500 rpm serta Torsi maksimumnya mencapai 10.1 Nm /  1.03 kgf-m @ 700 rpm. Dipadukan transmisi 5 percepatan dengan penggerak rantai mampu menyalurkan kecepatan hingga 100 km / jam lebih sedikit. Untuk menghentikan laju ban depan dan belakang masih mengandalkna tromol alias drum brake. Untungnya seri Yamaha RS 100 Super untuk menghentikan laju ban depan telah disematkan disk brake dan drum brake untuk menghentikan ban belakang. Jika diperhatikan seri Yamaha RS 100 masih menggunakan Drum Brake untuk menghentikan laju ban depan sedangkan untuk Yamaha RS 100 Super telah menggunakan disk brake. Mungkin di jaman itu memang tersedia varian drum brake dan disk brake, maklum barang Indonesia, sering ndak jelas runutan historisnya. Jadi agak susah juga menyimpulkan secara benar, ucap Boim panjang lebar padaku. Oiyaa…. ini spesifikasi lengkapnya Bro, sembari membuka hape dan menunjukkannya padaku :

Make Model

Yamaha RS 100

Year

1970an

Engine

Two stroke, torque induction, single

Capacity

97 cc / 5.9 cu-in
Bore x Stroke 52 x 45.6 mm
Cooling System Air cooled
Compression Ratio 7.0 : 1
Lubrication Autolube

Induction

Mikuni VM20SH carburetor

Ignition 

Magneto, CB/coil
Starting Kick

Max Power

 11 hp /  8.1 kW @ 8500rpm

Max Torque

 10.1 Nm /  1.03 kgf-m @ 700rpm
Clutch Wet multiplate

Transmission 

5 Speed
Final Drive Chain

Front Suspension

Telescopic forks

Rear Suspension

Dual shocks

Front Brakes

Drum I Disc

Rear Brakes

Drum

Front Tyre

2.75-18

Rear Tyre

3.00-18
Dimensions Length  1945 mm / 76.5 in
Width      730 mm / 28.7 in
Height   1045 mm / 41.1 in
Wheelbase 1240 mm / 48.8 in
Seat Height 775 mm / 30.5 in

Dry Weight

91 kg / 200.6 lbs

Fuel Capacity 

10 Litres / 2.6 US gal

Di Negaranya sendiri Yamaha RS 100 ini hadir dari tahun 1970an hingga tahun 1990an, tapi di negara asalnya sendiri. Yamaha RS 100 ini masa baktinya berakhir pada tahun 2003 dan digantikan dengan seri Yamaha STX 125 cc 4 tak. harga pasarana untuk menebus sebuah Yamaha RS 100 dalam kondisi utuh dengan surat menyurat lengkap dikisaran harga antara 2 juta sampe 15 jutaan. Yaaaaa……. Seperti biasa, semua tergantung kondisi mesin, keutuhan part original termasuk printilan-printilan kecilnya, soal harga ya sebenarnya suka sama suka bayar.

“Mantap penjelasannya Boorrr!!!….” Jawabku.

“Halaaah…. masih sedikit yang aku tahu, jika pembaca dimari ada yang lebih tahu… ya, monggo silahkan ikut berkomentar di kolom komentar”. jawab Boim.

Akhirnya motor boim pun kembali nyala normal setelah diperbaiki dan kami pun bertukar kontak menambah silaturahmi. Lalu aku pun melanjutkan perjalanan menuju taman kota, karna ternyata Mimin, Rojak dan Tigor sudah lebih dulu nongkrong disana. Terima kasih.

Jangan Lupa Bahagia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*