Sejarah Kehadiran Gilera RX 125 Dan RX Arizona Enduro 2 Stroke Asal Negeri Italia

Terik Surya menyinari dengan gagahnya dipadukan hembusan angin musim dingin yang terbawa dari negeri Australia sungguh paduan yang bisa bikin orang diterjang sakit apablia kondisi badan tak sehat. Kulajukan sebuah sepeda motor 2 Tak Enduro hasil pinjaman mbah Google mengitari kota dan bermuara di warung Bu Painem. Dimana warung ini bisa dikatakan Basecamp kedua setelah rumahku. Tampak Rojak dan Tigor sedang asiek ngobrol sembari menyeruput segelas kopi dan es teh. Reng!!!….. Teng!!!….. Teng!!!…. Teng!!!…. Teng!!!!…. Reng!!!!…. Teng!!!…. Teng!!!…. Teng!!!…. Teng!!!….. Teng!!!…… Deru mesin yang sekilas mirip dengan rakitan pabrik garputala ini menyalak didepan warung. Sengajaku geber agar si Rojak dan Tigor menoleh kearahku dan terbukti usaha yang kulakukan sukses mencuri perhatian mereka.

“Aaaiihh!!!…… Bujang…. Kau ini mengagetkanku saja.” Ucap Tigor dengan logat khas Medannya.

“Semprull!!!….. Kirain siapa?? Ternyata elo.” Sahut Rojak yang memanggilku.

“Hahahahaha…….🤣🤣 Kaget ya?!?!!……… Sorry, abis aku liat kalian mesra banget. MAcam orang lagi kasmaran di siang bolong.” Ledekku sambil melangkah ke dalam warung.

“Seettt Dach!!!…… Loe kata gue ini ACDC haahh!!!….” Balas Rojak tak kalah sengit.

“Sudah…. Biarkan saja kawan kita ini senang, lagian kau ini bawa Trail apalagi itu??…. Tak pernah kulihat itu.” Tanya Tigor sembari memperhatikan sepeda motor yang kugunakan.

“Biasa….. Mbah Google telpon, disuruh manasin motor koleksinya, maklum Gor…. Cuman kuncen yang kerjaannya ngelapin ama manasin motor. Balasku.

“Bu’e!!….. Es Teh yo Bu, sama sego jagung plus lauk’e….. Biasa Bu’e cacing di perut udah pada bermain orkes.” Ucapku kembali pada Bu Painem pemilik warung.

“Enak banget jadi loe….. Dipinjemin motor mulu ama mbah Google, Btw…. Loe ceritain Gih!!! ini motor historinya gimana??….” Pinta Rojak padaku disertai anggukan si Tigor.

“Iki Le!!!…. Pesananmu.” Ucap Bu Painem sambil menyodorkan segelas es teh dan sepiring nasi jagung komplit dengan lauk ikan asin plus plecing kangkung dan sepotong tahu goreng.

“Sik Tha….. Aku makan dulu, perutku laper…. Tadi ke mbah Google buru-buru. takut disandera ama Bi Asih yang Bahenol itu.” Jawabku sambil menerima piring dan gelas pesanananku.

“Sejarah Kehadiran Gilera RX 125 Dan RX Arizona Enduro 2 Stroke Asal Negeri Italia. Sepeda motor ini pertama kali disajikan dalam gelaran acara Milan Motor Show pada November 1983 dan dipasarkan mulai Maret 1984, Gilera RX 125 bersama dengan sodara sepupunya yaitu Gilera RV 125 adalah titik balik bagi rumah produksi Gilera yang berbasis di Arcore yang mana sejak paruh kedua tahun 1970-an memusatkan produksi pada moped dan sepeda motor.
Gilera mencuri pertunjukan dari para pesaing dan berkat pasar yang sangat menguntungkan, padahal setahun sebelumnya telah hadir Cagiva Aletta Rossa yang merupakan salah satu rival Gilera kala itu. Jika kalian menilik bagian instrument panel alias sisi speedometer maka terlihat lengkap menampilkan takometer, lampu sein dan lampu jauh lalu ada indikator bensin dan indikator suhu mesin. Shock depan mempercayai Marzocchi 35 mm dan di bagian belakang menggunakan monoshock Marzocchi yang dapat disesuaikan terdapat preload pegas yang dikombinasikan dengan suspensi Monodrive.” Ucapku Sembari menyelesaikan makan dan menjelaskan pada Rojak dan Tigor.

“Kukira tadi Yamaha RX Series yang dijadikan motor Trail/Enduro, Kulihat Joknya bertuliskan RX. Ternyata buatan Gilera.” Ucap Rojak yang sedari tadi menyimak penjelasanku.

“Bukan Gor…. Emangnya yang pake RX Yamaha aja, Banyak juga pabrikan lain pake Code Name RX, Kamen rider aja ada yang RX hahahahaha…..😂😂.” Jawabku sambil menyeruput segela es teh.

Sektor mesin dari Gilera RX 125 benar-benar baru kawan, Berbekal mesin 2 Stroke 124 cc berpendingin cairan dengan ukuran Bore X Stroke 56 x 50 mm mampu memuntahkan torsi maksimal sebesar 1,5 kgf-m @ 10500 rpm dan menghasilkan daya kuda sebesar 24 hp / 18 kW @ 9250 rpm  dipadukan transmisi 6 percepatan dan sebuah pengabutan bahan bakar karburator tipe Dell’Orto PHBH 26 menghasilkan kecepatan masimal hingga 119,2km / jam, yang merupakan nilai terbaik untuk kategori motor Enduro dan tentunya jelas lebih unggul dari Cagiva Aletta Rossa. Harga yang ditawarkan pada tahun 1984 adalah Lire 2.699.840 dan tambahan sebesar Lire 153.000 untuk starter listrik (opsional). Warna yang tersedia adalah putih dengan sadel hitam atau merah dengan sadel hitam. Ini Spesifikasi lengkapnya. Sambil membuka halaman blog duatak.com :

Make Model

Gilera RX 125

Year

1984 – 85

Engine

Two stroke, single cylinder, reed valves induction

Capacity

124 cc / 7.6 cu-in
Bore x Stroke 56 x 50 mm
Cooling Ssytem Liquid cooled,
Compression Ratio 13.4:1

Induction

26mm  Dell’Orto carburetor

Ignition 

CDI
Starting kick

Max Power

24 hp /18 kW @ 9250 rpm 

Max Torque

1.5 kgf-m @ 10500 rpm

Transmissio

6 Speed
Final Drive Chain

Front Suspension

Telescopic forks

Rear Suspension

Swing arm gas single shock

Front Brakes

Single 220 mm disc

Rear Brakes

140 mm Drum

Front Tyre

2.75-21

Rear Tyre

4.10-18

Wet Weight

138 kg / 304 lbs

Fuel Capacity

16 Litres / 4.2 US gal

Selain Seri Gilera RX 125 ini, hadir pula seri Dakarnya. Gilera RX Arizona yang diresmikan Sebagai sebuah busana yang terinspirasi oleh mitos Paris-Dakar yang ternyata pada tahun 1985 pabrikan Aprilia melihat hal tersebut sebagai peluang lalu mengusulkan seri Tuareg berdasarkan basis Aprilia ETX dan Cagiva the Elefant berdasarkan Aletta Rossa. Jika dilihat sepintas akan banyak kesamaan antara Gilera RX 125 dengan RX Arizona, hal yang membedakan adalah sebagai berikut :

> Tangki 22 liter dengan stiker yang ditandai dengan elang dan bendera bintang dan garis-garis yang memberi penghormatan kepada negara bagian Amerika Serikat di mana Arizona jelas didedikasikan.

> Adopsi aksesori gaya Dakar: penutup garpu, pelindung tangan, penutup cakram rem depan, bellow pelindung untuk kaki garpu, pelindung grille pada lampu depan dan tas benda belakang.

>Arizona disajikan dalam dua warna: hitam dengan pelana hitam dan putih dengan pelana merah.

>Seri Arizona Hawk menjadi sedikit lebih kecil kapasitas tangkinya dibandingkan seri Arizona, dimana seri RX Arizona mampu menampung bahan bakar sebanyak 22. Maka di Seri RX Arizona Hawk hanya menjadi 17 liter.

Selain hasil komersial yang sangat baik, RX Arizona juga mencapai beberapa keberhasilan olahraga dengan memenangkan reli Sardinia pada tahun 1985 dengan Franco Monchiero.

“Sebentar Sob!!!……” Ucap Rojak memotong pembicaraanku.

“Apa Jak??….” Tanyaku pada Rojak.

“ambil Surya sebatang dulu….” Balas Rojak sambil beraksi menyalakan mancisnya

“Yaeelaaah!!!…… Kirain apaan??….” Balasku yang kemudian lanjut menceritakan sejarah Sepeda Motor Gilera RX 125 2 Langkah.

“Sampe lupa aku tadi ngejelasinnya?!?!?….” Kataku kembali sambil garuk-garuk kepala.

“Sampe Perbedaan Seri RX 125 Dengan Seri RX Arizona.” Sahut Rojak mengingatkan pembahasanku tadi.

Pada tahun 1986, atau lebih tepatnya pada akhir tahun 1985, ada evolusi yang agak penting dari enduro Brianza. RTX 125 dan RX Arizona Hawk dihadirkan, menggantikan RX dan Arizona. Seri Gilera Arizona Hawk hadir dengan mesin yang lebih kuat dan komponen didesain ulang hingga 70%. Kedua sepeda motor itu hidup berdampingan dalam daftar, bahkan jika preferensi masyarakat lebih cenderung ke RX Arizona Hawk, yang memiliki “sejarah” yang lebih kuat dan di atas semua itu ada aspek dan nama yang menggugah unjuk rasa besar. Jika Melihat Spesifikasi mesin antara Gilera RX 125 dan RX Arizona tak ada perbedaan berarti kecuali yang sudah aku sebutkan tadi.

Berbicara soal penjualan angkanya terbilang masih kalah dengan Cagiva Aletta Rossa, Gilera hanya mampu menjual 385 unit RX 125 diawal kemunculannya sedangkan Aletta Rossa telah terjual sebanyak 725 unit. Penjualan Gilera RX 125 dan RX Arizona dari awal hingga akhir tahun pada saat itu mampu membukukan pencapaian penjualan hingga lebih dari 6,475, namun sayangnya Penjualan Gilera RX 125 dan RX Arizona lagi-lagi masih kurang setengah dari Cagiva, yang mencapai angka penjualan 13,652 unit.

Sedangkan harga secondnya dimasa sekarang ini bervariatif kawan, tercatat di beberapa situs jual beli online manca negara. Harga jual untuk bisa meminang sebuah sepeda motor enduro 2 Stroke Gilera RX 125 ataupun Gilera RX Arizona adalah diangka 700 Euro yang jika dikonversikan ke mata uang rupiah adalah sebesar 11 jutaan. Harga yang cukup menggiurkan bukan, harga segitu sudah dapat yang kondisi siap jalan lho…… Tapi ya balik lagi, tergantung kondisi dan kelengkapan surat dan tentunya apabila makin ciamik kondisinya maka harga jual pun ikut terpengaruh, belum lagi setahun belakangan ini harga sepeda motor 2 Tak di seluruh dunia mengalami kenaikan. Entah itu sekedar trend yang akan berlalu begitu saja atau akan terus mengalami kenaikan harga??…. Semuanya belum pasti kawan.

“Yapzz!!!…….. Begitulah kurang lebih sejarah hadirnya Gilera RX 125 dan RX Arizona ini kawan, Toh…. Di negaranya sendiri sepeda motor ini hanya bisa dikendarai bagi anak remaja berusia 16 tahunan kala itu.” Kataku setelah menyelesaikan makan siang.

“Paten kali penjelesan kau ini….” Sahut Tigor yang sedari tadi menyimak dengan seksama.

“Ndak Juga….. Kalo ada yang lebih paham ya monggo silahkan, kita bisa saling sharing berbagi informasi dan ilmu.” Jawabku dengan nada Bijak.

“Beeeuuhhh!!!….. makan tuch tempe bacem.” Kata Rojak sambil melemparkan tempe bacem kearahku dan segera kutangkap dengan sempurna lalu aku habiskan, daripada mubazir tho!!!….

“Ya udah…. Ane balik dulu Rojak…. Tigor mau balik ke rumah sekalian muter-muter lagi sembari manasin ini motor sebelum sampe ke rumah.” Jawabku.

“Bu’e….. Pinten (berapa)????….. Tanyaku pada Bu Painem.

“Gue Sekalian….” Saut Rojak.

“Punyaku sekalianlah Bujang….” Saut Tigor tak kalah menimpali ucapan Rojak.

“Ogaah!!!…. Bayar sendiri-sendirilah, emang aku bapakmu Bweekk!!!😜😜” Ejek ku pada mereka berdua

“Sudah…Sudah…. kalian ini, kayak bocah SD aja. Tambahanne opo wae Le??….” Tanya Bu Painem padaku.

“Nganu…. Nambah Krupuk ama tempe bacem Bu’e.” Jawabku sembari menunjuk apa aja tambahan makananku tadi dengan ibu jari tangan.

” 16 Ribu Le….” Ucap Bu painem setelah menghitung total belanjaanku.

“Niki Nggih Bu’e….” Sambil menyodorkan selembar uang 20 ribu rupiah.

“Kembalianne Le….” Sembari memberikan uang 2 ribu rupiah sebanyak 2 lembar.

“Matur suwun nggih Bu…. Kulo pamit nggih.” Balasku pada Bu Painem.

“Borrr!!!…….. Ane pamit pulang dulu ya.” Kataku sambil menyalami tangan kedua teman karibku ini.

 

Jangan Lupa Bahagia.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*