Yamaha SDR 200 Naked Bike 2 Stroke Mini Monster Dari Jepang

Setelah beberapa hari tak ke rumah mbah Google, kali ini kembali dipinjamkan kendaraannya untuk sekedar dipanasin. Gawai yang sedari tadi bertengger dengan manis di dekat catu daya tetiba saja berdering dan segera saja aku lihat, ternyata mbah Google menelepon apakah hari ini aku jadi ke rumahnya untuk membawa salah satu koleksi sepeda motornya untuk berkeliling kota. Setelah berbicara dengan mbah Google, segera saja kuambil jaket yang tergantung di dinding dan bergegas mengambil kunci motor di meja dekat tivi, tak lupa pula helm demi keselamatan berkendara. Kupanaskan mesin motor jenis bebek/cub lansiran tahun 2007 sejenak. Setelah segala sesuatunya siap dan tak ada yang tertinggal segera saja sepeda motor ku gelandang menuju ke rumah mbah Google. Tak Butuh waktu lama untuk sampe ke rumah mbah Google dan ternyata sepeda motor telah siap di dekat pos security di depan rumah mbah Google. Tanpa basa-basi segera kutkar saja sepeda motor yang kukendarai dengan sepeda motor yang telah disiapkan oleh mbah Google

Tak Lupa sebelumnya pamit dulu ama si Ujang yang sedari tadi menunggu kedatanganku di pos security. Bingung dengan tujuanku…. Maka kuarahkan saja sepeda motor ke kostnya Mimin, kali aja itu anak di kost lagi kagak ngapelin Hayati. Benar saja si Mimin lagi asiek maen gitar di teras rumah bareng ama Rojak yang terlihat asiek memukul kendang dari bahan paralon ditutupi karet ban dalam mobil. Tiiin!!!….Tiiin!!!…Tuuiiin!!!…Trrreeeeeng!!!….Teeeng!!…..Teeeeng!!!!… Segera kumatikan sepeda motor yang kukendarai saat memasuki halaman parkiran kost Mimin.

“Assalamu’alaikum.” Sapaku pada kedua temanku ini sambil menyalami mereka.

“Wa’alaikumsalam.” Sahut kedua temanku sambil menyambut uluran tangan yang kuberikan sebagai tanda jabat tangan.

“Tumben Loe Bawa motor eropa 4 tak, biasanya juga motor 2 Tak mulu.” Tanya Rojak setelah kusalami.

“Masa Borr??….. coba Loe liat lagi, ntar salah lagi.” Jawabku mencoba meyakinkan Rojak.

“Hallaaaahhh!!!!….. jelas-jelas itu motor Eropa Ducati Monster.” Sanggah Mimin atas ucapanku ke Rojak.

“Yakin Min?!?!??…… Coba cek lagi, tebakanmu salah Min.” aku pun menimpali ucapan Mimin.

“Eeehhhh!!!….. Bukan Ducati Monster, tapi kok tangkinya ada tulisan Yamaha, mesinnya juga satu siliner milik Yamaha.” Tanya Mimin padaku sambil keheranan pad asepeda motor yang kutunggangi barusan.

“Iya…Yakzz….. Ternyata ini motor Yamaha 2 Stroke bikinan Yamaha, kirain tadi Ducati Monster.” Ucap Rojak yang tak kalah heran melihat motor tersebut.

“Penasarankan??…. Ya udah, aku bantu jelasin sebisa yang aku tahu ya.” Ucapku kembali pada kedua temanku ini yang masih asiek melihat-lihat sepeda motor unik yang kukendarai.

“Boleh…..Boleh….Boleeeh!!….” Ucap mimin dan Rojak bersamaan seperti Koor paduan suara.

Ini merupakan Yamaha SDR 200 keluaran tahun 1986, sepeda motor ini hadir sebenarnya hanya Untuk pasar domestik Jepang saja, atau yang biasa kita kenal dengan Japan Domestic market (JDM). Tetapi di negara selain Jepang pun cukup banyak beredar dan tentunya bukan resmi keluaran dari dealer yamaha di negara tersebut, tetapi melalui jalur importir umum di negara tersebut. Sepeda motor ini didesain dengan tampilan yang sangat futuristik dan seakan melampaui era-nya pada dekade 80-an silam. Pada tahun 1986, pada peluncuran kendaraan bermotor terbaru keluaran Yamaha di distrik Ebisu, pengembang mengatakan, “Ini akan lebih cepat daripada Yamaha TZR 250.” Mengingat bahwa sepeda motor ini bermesin tunggal 2 Langkah dengan kubikasi 200cc yang dirancang baru dalam tubuh kompak yang sebanding dengan kelas 125cc.

Padahal sebenarnya frame tralis model seperti bukan merupakan sebuah karya Original milik Ducati, tapi frame model seperti ini sudah melekat dengan Ducati karna sebagian besar seped motor Ducati menggunakan frame tralis dengan model seperti ini. Bingkai/Frame memiliki struktur rangka yang pada lazimnya berbentuk deltabox berganti dengan bentuk pipa tubular dan pada bahan pipa tersebut disematkan pelapisan TC menggunakan tiga elemen nikel, timah, dan kobalt. Air box Filter terbuat dari bahan aluminium cor dan merupakan bagian dari subframe.

Yamaha SDR 200 pertama kali dipasarkan harganya 379.000 yen yang kalo dikonversikan ke mata uang rupiah di tahun 2019 ini jadi sekitar 49 jutaan. Untuk harga bekas dari Yamaha SDR 200 di negara asalnya sana yaitu Jepang, terlihat dibeberapa situs jual beli online di Jepang, dijual dengan harga 3000- 4900an Yen. Jika dirupiahkan dikisaran harga 39 jutaan hingga 63 jutaan. Sedangkan di United Kingdom ( UK ) alias Inggris, Yamaha SDR 200 ini harga secondnya direntang harga 3.600 GBP Hingga 4.200 GBP yang jika dkonversikan ke mata uang rupiah menjadi 63 jutaan sampe dengan 73 jutaan, harga yang cukup fantastis Kawan.

 

Make Model

Yamaha SDR 200

Year

1987 – 89

Engine

Two stroke, single cylinder, YPVS

Capacity

195 cc / 11.8 cu-in
Bore x Stroke 66 х 57 mm
Cooling System Liquid cooled
Compression Ratio 5.9:1

Induction

28mm Flat-side Mikuni carburetor

Ignition 

Transistorized
Starting Electric

Max Power

34 hp / 24.1 kW @ 9000 rpm

Max Torque

2.8 kgf-m / 20.2 lb-ft @ 8000 rpm
Clutch Wet plate

Transmission 

6 Speed 
Final Drive Chain

Front Suspension

33mm Telescopic forks

Rear Suspension

Monocross 9-way preload

Front Brakes

Single disc 2 piston caliper

Rear Brakes

Single disc 2 piston caliper

Front Tyre

90/80-17

Rear Tyre

110/80-17
Dimensions Length 1945 mm / 76.6 in
Width 680 mm / 26.8 in
Wheelbase 1335 mm / 52.6 in
Seat Height 770 mm / 30.3 in

Dry Weight

105 kg / 231 lbs

Wet Weight

115 kg / 254 lbs

Fuel Capacity 

9.5 Litres / 3.0 US gal

Consumption Average

45.9 mpg

Standing ¼ Mile  

14.5 sec / 85 mph  136.8 km/h

Top Speed

102 mph / 164.1 km/h

Jika diamati Motor ini keliatannya seperti berbagi mesin dengan DT200R, dan WR200 akan tetapi sebenarnya tidak. Teknologinya, sudah menggunakan crankcase reed valve pada intake-nya. Karburatornya menggunakan flat valve untuk mendapatkan respon terbaik. Mengandalkan mesin 193 cc silinder tunggal 2 Langkah berpendingin cairan dengan ukuran Bore X Stroke sebesar 66 х 57 mm dan kompresi 5,9 : 1 serta sebuah karburator Flat-side Mikuni 28mm, mampu memuntahkan Daya Kuda sebesar 34 hp / 24.1 kW @ 9000 rpm dan mampu memberikan tendangan torsi sebesar 2.8 kgf-m / 20.2 lb-ft @ 8000 rpm plus dipadukan dengan transmisi 6 percepatan mampu melesat hingga lebih dari 160km/jam dan bobot keringnya pun sangat ringan hanya 105 kilogram saja, jadi ndak lebih berat dari motor bebek/cub dengan mesin dan tenaga sebesar motor sport. Hal yang paling berperan besar pada Yamaha SDR 200 ini adalah disematkannya teknologi YPVS yang mampu mengatur bukaan katup buang gas secara elektronik.

Sebenarnya mesin yang dibenamkan pada Yamaha SDR 200 ini bukan dari Yamaha DT 200 atau Yamaha WR 200 akan tetapi mesin dari Yamaha TZR 125 yang dinaikan kapasitas silinder menjadi 200 cc. Kemudian panel meternya pun sangat ringkas, hanya ada jarum speedometer saja. Penunjuk suhu dan oli samping hanya menggunakan lampu indikator, simple dan minimalis. Mungkin itu yang menjadi petimbangan dari Yamaha SDR 200 ini.

“Tapi iya Juga sich….. Ducati kuat banget menanamkan mindset kalo motor dengan frame tralis seperti ini ya Ducati.” Ucap Mimin memotong penjelasanku.

“Yapzz…… Tapi tetap aja Min, ini kalo parkir di Mall….. Akan tetap dikira Ducati, kalo yang liat lebih teliti paling dikira motor modifan pake frame tralis ala-ala gitu.” Jawabku pada Mimin

“Bree…. Itu jok single seat bawaannya apa udah dimodif ama mbah Google??….” Tanya Rojak Padaku.

Ya Asli Borrr….. itu emang bawaan pabriknya udah didesain dengan hanya untuk khusus satu pengendara saja, tanpa bisa membonceng orang lain.” Jawabku pada pertanyaan Rojak.

“Sambil kubuka bagian buntutnya….. “Tuch!!!….. Oli samping tempatnya disini sedangkan untuk penempatan tabung reservoir/tabung cadangan air radiator ada di belakang monoshock yang ditempatkan mirip seperti pada CBR150R Thailand.
Yo wes…. Aku makan dulu Min, ada Mie kan.” Ucapku kembali Sambil ngeloyor masuk ke kamarnya Mimin lalu menuju dapurnya Mencari Mie instan.

“Ada bang….. Ambil aja, jangan lupa kalo udah kelar piring dicuci bang.” Jawab Mimin yang kembali duduk di teras dan mulai kembali bermain gitar diiringi tabuhan kendang milik Rojak.

 

Jangan Lupa Bahagia.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*