2 Februari 2026 1:04 pm
.
2 min read
JAKARTA — Pemerintah mempercepat pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi dari hulu ke hilir sebagai strategi utama mendorong hilirisasi mineral dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Proyek kolaborasi Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD) ini diharapkan menjadi motor bagi peningkatan daya saing industri nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem rantai industri baterai secara terintegrasi, mulai dari pertambangan nikel, smelter, high pressure acid leaching (HPAL), produksi precursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.
Dengan total nilai investasi proyek diperkirakan mencapai US$ 7 miliar hingga US$ 8 miliar, pemerintah terus melanjutkan pengembangan fasilitas baterai dari tahap awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) yang telah beroperasi sejak 2023.
Baca Juga 5 Mall Pet Friendly di Jakarta untuk Mengisi Akhir Pekan
Ke depan, kapasitas produksi akan ditingkatkan dengan tambahan 20 GW guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.
“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil usai penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) oleh konsorsium ANTAM-IBI-HYD, Jumat (31/1).
Bahlil menjelaskan rantai industri ekosistem baterai kendaraan listrik memiliki dampak yang sangat besar terhadap kemajuan ekonomi.
Bukan hanya meningkatkan nilai tambah mineral, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga Butuh Moodbooster? Ini Lip Balm Favorit Gen Z dengan Packaging Super Gemes
Bahlil menerangkan, Indonesia memiliki sumber bahan baku nikel, yang nantinya akan dipasok oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang berkolaborasi dengan konsorsium.
Pemerintah pun menargetkan kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan negara, dengan porsi di atas 50%, bahkan di kisaran 60%–70%.
“Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam harus dikelola negara dan diprioritaskan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menyatakan, kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi sekaligus membangun kemandirian teknologi baterai di dalam negeri.
Baca Juga Cara Realistis Menyiapkan Tabungan Pernikahan dan Rumah Tangga
“Sejak awal, misi utama IBC adalah menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kerja sama dengan Huayou ini merupakan kelanjutan dari proyek Titan, setelah sebelumnya bersama LG. Kami ingin memastikan bahwa hilirisasi ini benar-benar memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia,” kata Aditya.
Menurut Aditya, kolaborasi ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan kapasitas produksi, tetapi juga penguatan penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia nasional.
“Harapannya, partnership ini menjadi learning curve bagi Indonesia, sehingga ke depan kita tidak hanya menjual sumber daya, tetapi juga mampu memproduksi baterai dengan teknologi kita sendiri,” pungkasnya.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.